Kisah Pak Daliman, Guru SDLB Tuna Rungu Santi rama

Posted: Oktober 6, 2010 by Eva in Pendidikan

Menyadarkan Artikulasi Siswa Tuna Rungu dan Mencari Ridha Allah
Dua puluh dua tahun menjadi tenaga pengajar bagi anak yang mengalami kebutuhan khusus di Yayasan Santi Rama Jakarta Selatan adalah perjalanan panjang Daliman Spd. Pria kelahiran Sidoharjo Sragen 45 tahun silam itu sudah banyak merasakan pahit manisnya menjadi guru di sekolah luar biasa khusus untuk anak-anak tuna rungu.

Menjadi guru bukanlah cita-cita awal dari Bapak dua anak ini. Latar belakang sekolah pertanian membuat dirinya harus bekerja keras menyesuaikan kemampuan dengan metode pembelajaran di Sekolah luar biasa yang memiliki kekhususan. “Setelah lulus Sekolah Menengah Pertanian (SMT) saya menganggur selama setahun, saya pergi ke Lampung mencari pekerjaan, akhirnya pada tahun 1985 saya masuk Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Negeri Surakarta. Saat itu saya masih buta sama sekali apa itu SPGPLB. Seiring proses dan berjalannya waktu saya memahami dan mengerti tentang SPGPLB, naluri seorang guru di jiwa saya mulai ditimpa kesabaran dan ketelatenan untuk mendidik anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus, niat saya makin bulat untuk menjadi guru kebutuhan khusus hingga lulus tahun 1987,” Ujar lelaki berkumis ini panjang lebar.

siswa santi rama sedang belajar

siswa santi rama sedang belajar

Saat masih kuliah Daliman punya alasan sendiri kenapa memilih tuna rungu sebagai salah satu pilihan hidupnya. “Saat itu masih semester pertama ada observasi ke sekolah-sekolah ada jurusan tuna netra, tuna rungu, tuna daksa dan tuna grahita. Saya melihat tuna rungu tidak ada masalah secara fisik, dan itu yang selalu saya tekankan pada murid saya, bahwa tuna rungu sama dengan anak normal lainnya, hanya mengalami kekurangan dalam mendengar saja, sehingga saya memilih mengajar siswa tuna rungu,” ungkap dalam mengutarakan alasannya.

Setelah lulus SPGLB Daliman pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan sebagai guru di Yayasan Santi Rama yang berada di daerah Fatmawati Jakarta Selatan. Pada Agustus 1988 Daliman diterima menjadi guru di Santi Rama dan pada 1992 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Daliman mendapat dukungan penuh dari keluarga untuk mengajar di Santi Rama, meskipun dia harus memberikan penyadaran pada anak-anaknya bahwa pekerjaannya sebagai guru sekolah Luar Biasa (SLB-B) adalah pekerjaan mulia.

“Saya katakan begini pada anak-anak saya, Orang lain nanti akan bertanya apa pekerjaan Bapak kalian? Saya tekankan kepada anak-anak saya agar jangan malu mengakui bahwa pekerjaan bapaknya adalah mengajar di sekolah luar biasa. Saya jelaskan bahwa pekerjaan menjadi guru SLB itu adalah pekerjaan mulia, pekerjaan yang tidak perlu ditutup –tutupi atau malu karena siapa lagi yang akan memperhatikan anak-anak yang tidak sempurna kalau bukan kita. Setelah diberi penjelasan demikian kini anak-anak tidak malu lagi mengakui jika bapaknya mengajar di SLB,” Ucap Daliman gembira.

Pak Daliman di ruang Kepala Sekolah SDLB Santi Rama

Pak Daliman di ruang Kepala Sekolah SDLB Santi Rama

Dukungan keluarga dan para guru di sekolah dan yayasan membuat Daliman bersemangat dalam mengajar. Setelah beberapa tahun mengabdi menjadi guru SLB-B di Santi Rama, ia melanjutkan pendidikan sampai jenjang S-1. Pada tahun 1998, Daliman masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Fakultas Keguruan jurusan PLB, dan lulus pada 2001 dengan lulusan terbaik.
Peningkatan Kejelasan Bicara melalui Penyadaran Artikulasi

Melaksanakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh adalah modal utama Daliman menjadi yang terbaik. Itu juga yang dilakukan oleh suami dari Sri Murtanti ini dalam mengikuti pemilihan guru berprestasi dan berdedikasi yang diselenggarakan oleh Departemen pendidikan Nasional pada Bulan Agustus 2010.

“Sebenarnya sudah lama saya ditawari untuk ikut pemilihan guru berdedikasi, tapi saya belum siap dan baru tahun ini saya siap dan saya katakan pada kepala sekolah untuk mengikuti dan membuat karya ilmiah. Saya mengikuti ajang berdedikasi dan berprestasi ini dari tingkat Suku Dinas (Sudin) Jakarta Selatan, tingkat provinsi DKI Jakarta dan akhirnya lolos menjadi yang terbaik di tingkat nasional, alhamdulilah, kebetulan tahun ini DKI Jakarta tidak ada guru yang menjadi juara I di tingkat TK, SD, SMP, maupun SMA, hanya di pendidikan luar biasa (PLB)” ujar Daliman bersyukur.

Salah satu keunggulan yang dimiliki Daliman sehingga menjadi juara I guru berdedikasi untuk PLB adalah Karya ilmiah yang merupakan hasil observasinya sejak lama. Karya itu berjudul “Peningkatan Kejelasan Bicara Melalui Penyadaran Artikulasi dan suprasegmental kelas V SDLB Tuna Rungu Santi Rama Jakarta Selatan,” Dalam penyusunan karya ilmiah ini Daliman tidak mengalami kesulitan karena dia menulis apa yang dikerjakannya sehari-hari.

“Sebenarnya ini adalah pekerjaan rutin, karena kendala para tuna rungu adalah di bicara, karena tidak berfungsinya indera pendengaran otomatis ya tuna wicara, karena ada tahapan dalam bicara ada prawicara, tahap pembentukan, perbaikan, dan tahap kelancaran. Kenapa saya ambil kelas V karena pada kelas V itu semua fonem, vocal dan konsonan seharusnya sudah terbentuk, tapi mengapa anak masih seperti itu, pengucapannya masih kurang jelas dan lain-lain, sehingga saya harus mencermati hal itu dan saya menyadari bahwa kekurang jelasan bicara itu bukan harus dibentuk atau diperbaiki lagi, tapi harus disadarkan artikulasinya,”ujar Daliman menceritakan karya ilmiahnya.

Sementara itu, ia juga menjelaskan jika suprasegmental dalam hal ini tidak hanya meliputi aspek artikulasi saja, akan tetapi juga intonasi, jeda, dan irama. “Orang tuna rungu kan bahasanya monoton, dia tidak bisa membedakan kalimat tanya dengan kalimat perintah, padahal itu kan berbeda. Karena tuna rungu tidak bisa mendengar maka kalau tidak bisa membedakan juga maka mereka harus disadarkan dengan memberi jeda, lengkung frase, penekanan kalimat tanya atau kalimat perintah misalnya ditandai dengan garis bawah,” ujarnya semangat.

Karya ilmiah yang dibuat olehnya telah menarik perhatian juri sehingga ia menjadi juara I Guru berdedikasi tingkat pendidikan luar biasa tingkat nasional serta mendapat kesempatan bertemu presiden, menteri pendidikan nasional dan mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Merdeka. Meskipun ia sudah lama menetap di Jakarta, tapi mendapat kesempatan ketemu presiden dan wawancara langsung dengan Ibu Ani Yudhoyono merupakan kesempatan emas bagi pria yang menetap di Depok ini.

Tidak hanya bertemu dengan orang-orang penting negeri ini dan rekan sesama guru berprestasi dan berdedikasi dari seluruh Indonesia. Daliman juga mendapat penghargaan berupa uang. “Jika dikumpulkan dari tingkat Sudin sejak saya mengikuti ajang berprestasi dan berdedikasi, hadiah yang diperoleh dari berbagai instansi seperti Sudin Jakarta Selatan, Sudin DKI Jkarta, Bank BRI, Bank Mandiri, dan pemerintah, Alhamdulilah kurang lebih totalnya sekitar Rp.30.000.000., pertama-tama uang itu saya zakatkan sesuai kewajiban kita sebagai orang muslim, kemudian rencana sisanya sebagai tanda syukur kepada Allah SWT saya tabung untuk naik haji,” ujar lelaki tinggi besar ini yakin akan pilihannya.

Mensyukuri setiap detik yang diberikan oleh Allah SWT sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari dalam hidup Daliman. Selama 22 tahun mengajar di SLB, keberkahan dalam hidup selalu menghinggapinya. Ia pernah menjadi ketua Gugus Depan 06-007 Rama tahun 1995-1998, kemudian pernah juga menjadi tim penyusunan naskah EBTANAS,UN, UASBN yang diselenggarakan Puspendik, Balitbang, Kementrian Pendidikan Nasional, wakil kepala SMPLB/SMALB tahun 2003-2007, dan saat ini menjabat sebagai wakil kepala SDLB tahun 2007 sampai sekarang.

Daliman menyadari bahwa apa yang diperolehnya tidak lepas dari Ridha Allah SWT, doa kedua orang tua dan teman-teman. Dalam kehidupan bermasyarakat ayah dari Damar Ihsan Zhafari dan Hanifah Mufidati ini juga pernah menjadi ketua RT 09/Rw.14 di kediamannya di Puri Bojong Lestari Bojonggede Bogor serta sampai saat ini aktif di Mushola Al-Hidayah. “Saya mensyukuri apapun yang diberikan Allah SWT dan itu semua saya lakukan untuk mencari Ridho-nya,” ujar putra dari Tarjowiryatmo dan Ginah ini seraya tersenyum. (Eva Rohilah)

About these ads
Komentar
  1. risa farida mengatakan:

    saya sangat terkesan dan tertarik dg perjalanan hidup serta karir bpk,sy juga guru untuk anak2 berkebutuhan khusus di jambi,tepatnya di SLB Prof Dr Sri Soedewi Masjchun Sofwan SH jambi….terus terang kemampuan membaca anak2 tunarungu di sekolah saya msh sangat kurang sekali,kalau boleh minta saran,pemikiran dan pendapat bpk tentang pendekatan/metoda atau cara2 menyampaikan cara membaca yg benar seperti apa…?terima kasih sebelimnya

  2. uchi mengatakan:

    he is my hero

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s